Tampilkan postingan dengan label Aku Ingin Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Ingin Hidup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2009

Memutus Rantai ( Indah, gelap dan terang bagian 3 )

Namanya Ayu, usia nya baru genap 7 tahun. Kalau dipikir Ayu memang masih tergolong anak kecil yang mempunyai hak untuk bermain. Ia memang bermain, tetapi di jalanan yang penuh dengan debu dan polusi.
Rambutnya yang halus panjang, tergerai begitu saja. Sudah tampak warna warna kemerahan oleh oleh dari terik nya matahari. Wajah nya yang polos sudah menunjukkan bibit kecantikan. Orang yang melihat pasti sudah bisa menebak seandainya dia didandani , penampilannya gak akan kalah dengan artis cilik yang sedang ngetop saat ini.
Dengan memegang potongan kayu yang sudah diikat dengan tutup tutup botol bersoda, ia mendatangi kendaraan mewah satu persatu saat lampu merah.
Hasil yang diperoleh tidak banyak, tetapi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya untuk jajan dan membeli sesuatu yang dia inginkan untuk anak seusianya.
Ia terpaksa melakukan ini semua, karena tidak ada pilihan lain, kakak nya yang bernama Indah sudah tidak bisa lagi memberikan ia uang jajan.
Ayu sangat mengagumi sang kakak, Ayu ingin seperti kakak nya kelak.
“ Kenapa kamu ingin seperti aku dik?” tanya Indah di suatu sore
“ Aku ingin cantik seperti kakak, pakai baju bagus, wangi, berdandan , dan pergi naik motor atau mobil keren…” jawab Ayu sambil memandangi kakak nya yang sedang ber dandan.
Indah hanya menunduk, menyimpan air mata yang menggenang di kelopak bawah matanya.
“ Kamu tidak boleh seperti aku dik, kamu harus belajar yang giat, kakak akan berusaha sekuat mungkin untuk membuatmu pintar “ Indah menjawab sambil memalingkan wajahnya yang sudah hampir basah oleh air mata.
“ Tapi kak… ibu pernah cerita, dulu ibu juga seperti kakak, tapi karena sekarang ibu sudah sering sakit aja jadi ibu tidak bisa cantik seperti kakak… “ Ayu memprotes karena ditolak keinginannya untuk menyamai sang kakak.
“ Ayu… kamu masih terlalu kecil, kakak tidak bisa cerita sekarang, tapi satu hal yang harus kamu ingat… kakak melakukan kesalahan karena meniru ibu, jangan kamu melakukan hal yang sama….demikian juga jika kakak punya anak gadis kelak, kakak tidak akan pernah mengijinkan ia menyamai kakak, kamu harus berani memutus rantai ini. “ Indah berusaha meyakinkan Ayu dengan jawabannya.
Ayu hanya mengerutkan dahi tidak mengerti…..terutama dengan perkataan kakak nya soal memutuskan rantai…. Apa sih yang dimaksud dengan memutuskan rantai ini…Ah..nanti akan kucari tahu sendiri jika aku sudah dewasa kelak. ( elizatri )

Selasa, 28 April 2009

Demi Anak ( Indah, gelap dan terang bagian 2 )

Akhirnya Indah membiarkan mahluk hidup itu tetap bertumbuh di rahim nya. Ia sudah me masrah kan hidup nya. Keluh kesah orang tua dan adik nya yang sulit mencari nafkah membuat ia nekat bekerja lagi dengan perut sebesar itu.
Pria pria yang tadi nya sangat bergairah melihat nya hanya mencibir tak ber selera. Tetapi ada juga yang tetap menginginkan nya meskipun ia harus rela dibayar lebih murah.
“ Aku harus mematikan perasaan ku, sekarang aku harus berjuang tidak hanya untuk orang tua ku , adik ku , juga demi anak ku yang akan kulahirkan “ Indah menutup mata membiarkan harga diri nya di rendahkan .Indah melahirkan sebelum waktu nya, karena ulah pria tua yang kelewat batas malam itu. Cairan ketuban mengalir seperti urine. Indah menahan semua rasa sakit.. demi anak ku… demi anak ku…. Sakit di dalam hati, sakit di badan , sudah tidak ada rasanya sama sekali. ( elizatri )

Kamis, 05 Maret 2009

Indah, Gelap dan Terang

Nama nya Indah, tetapi tidak sepadan dengan hidup nya yang kelam. Hari ini ia tertegun melihat klinik gelap yang biasa membantu nya mengatasi masalah sudah ditutup.
Tidak tahu lagi kemana ia harus mencari pertolongan akan perbuatannya.
Ia sadar penuh dengan “ kegelapan “ yang sudah dilakukan nya selama ini. Tetapi, apa lagi yang bisa diperbuatnya untuk mencari sesuap nasi dan membiayai orang tua dan adik adik nya?
Berbagai cara sudah dilakukan nya untuk meng “ enyah “ kan mahluk hidup yang tumbuh di tubuhnya. Ia membayangkan hidup tanpa uang jika ia berani membiarkan mahluk hidup itu terus berkembang. Ia merasakan ketakutan atas sesuatu yang belum terjadi.
Sepanjang jalan dari klinik gelap yang sangat membantunya selama ini, ia melihat seorang ibu menggandeng dua orang anak nya. Hati nya miris, membayangkan seharusnya ia sudah seperti itu bila ia tidak pernah meminta pertolongan klinik gelap ini.
Hatinya menjerit, ia merasa selama ini tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih gelap atau terang. Karena, jalan yang tampak di matanya selama ini hanya pilihan untuk “ kegelapan “ . ( elizatri )

Rabu, 25 Februari 2009

Aku Ingin Hidup ( 2 )

Sejak enam bulan yang lalu mama sibuk dengan hura hura nya, aku tidak pernah lagi merasakan dekapan mama saat malam hari aku akan membaringkan diri.
Semua berawal dari kedatangan pria ber mobil itu yang terus menjemput mama. Aku tahu, mama membutuhkan uang untuk membelikan ku susu dan untuk membiayai kebutuhan orang orang di rumah yang bergantung padanya. Tetapi, apakah harus dengan cara hura hura setiap malam hari ?
Aku selalu terbangun setiap mendengar suara gaduh mama saat pulang. Aku selalu mendengar pertengkaran mama dengan nenek ku yang lumpuh. Aku selalu mendengar mama berbicara tidak jelas . Aku tahu, kebiasaan mama minum sampai mabuk kambuh kembali.
Sejak aku lahir, mama memang tidak pernah mabuk lagi. Tapi ketika mama harus menemani pria ber mobil itu berhari hari, kebiasaan mama ku kambuh kembali.
Aku tahu, bukan ini kemauan mama, tetapi yang aku tidak tahu kenapa mama selalu memilih jalan ini untuk mencari uang.
Aku memang ingin hidup mama, tetapi bila aku harus hidup dengan penderitaan mu, aku merasa bersalah karena nya. ( elizatri )

Rabu, 14 Januari 2009

Aku Harus Tegar ( Diary Ibu Penjual Sayur )

Saat yang lainnya masih terlelap aku sudah mempersiapkan gerobak sayurku. Tiga orang anak ku yang sepenuhnya menggantung kan harapan di pundak ku juga masih terlelap. Aku tidak sampai hati membangunkan mereka. Aku memang berjuang untuk kesejahteraan mereka.
Semua berawal saat ayah mereka pergi ke yang Maha Pencipta. Mulai dari saat itu, yang ada di benak ku hanya, aku harus tegar. Tentu saja aku harus tegar untuk kelangsungan rumah tangga ku, kalau bukan aku siapa lagi yang akan menjadi sandaran ke tiga anak ku?
Ibu ibu tetangga kiri kanan sering memujiku wanita tangguh. Wanita tangguh? Aku sendiri tidak pernah menganggap diriku sebegitu tangguhnya. Aku menjadi tangguh di mata mereka karena tuntutan hidup. Tuntutan hidup yang tidak bisa membuatku memilih selain aku harus tegar dan menjadi wanita tangguh.
Aku yakin, semua wanita pun bisa seperti ku jika tidak ada pilihan lain, hanya saja, yang aku sesali wanita lain menggunakan kelemahan mereka untuk bertahan hidup. Tapi, terserah lah dengan mereka, karena aku akan tetap menggunakan kekuatanku untuk tetap bertahan hidup.
Tidak peduli hujan atau panas yang sedang terjadi di atas bumi ini. Aku tidak bisa mengeluh karena tidak akan ada yang mau mendengarku. Aku akan tetap mendorong gerobak sayur ku demi sesuap nasi dan kesejahteraan keluargaku. Dan, hanya tiga kata ini yang selalu mendorong semangatku : aku harus tegar.

Kamis, 18 Desember 2008

Anak Manusia

Seorang ibu gendut lari mengejarku sambil mengacungkan sapu. Aku lari sekuat tenaga sambil menggigit ikan di mulutku. Aku memang lapar sekali, dan tadi kucium bau harum ikan goreng. Begitu ada kesempatan, langsung kucuri ikan tersebut. Tapi sayangnya ibu gendut pemilik rumah melihatku, dan langsung mengambil sapu untuk dilempar ke arahku.
Aku tahu, hanya ini jalan satu satunya untuk mengenyangkan perut. Jarang jarang aku bisa dapat ikan besar se enak ini. Aku makan dengan lahap, tidak peduli suara gaduh ibu gendut itu memukul mukulkan sapunya ke tong tong sampah. Aku sudah berhasil menemukan tempat bersembunyi yang aman.
Selesai makan, aku merasa kenyang sekali. Kujilat tangan dan kaki ku untuk bersiap siap tidur nyenyak karena aku merasa ngantuk sekali akibat kekenyangan.
Aku tidak peduli apa yang sudah kulakukan. Karena, aku hanya seekor kucing yang sejak masih anak anak harus berjuang sendiri untuk mencari makan.
Aku ingat dulu waktu aku baru berumur 7 hari, terpisah dari ibuku, dan aku sepanjang hari berteriak teriak minta tolong untuk diberi makan, tetapi tidak ada yang memberiku makan. Orang orang hanya lewat, bahkan sering ada motor yang hampir melindasku. Aku harus berjuang sendiri menghadapi ganasnya hidup ini. Dan, pada akhirnya tokh aku juga bisa bertahan sampai sekarang. Meskipun aku menjadi seekor kucing pencuri tapi aku tidak peduli, karena aku sudah terlanjur dipaksa oleh kehidupan menjadi begini.
TAPI, ada satu pertanyaan yang sering mengganjal di benakku : akankah menjadi sesuatu yang berbeda jika aku dulu dilahirkan menjadi seorang Anak Manusia? Apakah aku juga akan menjadi seorang pencuri pada saat dewasa, jika terlalu lama dipaksa oleh kehidupan untuk menghadapi kerasnya dunia untuk hanya mencari sesuap nasi? Ah..kubuang jauh jauh pikiran percuma itu, karena aku tahu MANUSIA tidak mungkin seperti itu, SEBAB…..mereka punya MORAL dan derajad yang lebih tinggi diatasku !

Kamis, 11 Desember 2008

Anakku

Anakku...jantung ini bagaikan genderang yang terus bertalu. Jantung ku tidak kuat melihatmu menangis menjerit jerit saat jarum infus menusuk kulit halus mu.
Aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa ikut menangis di depanmu. Engkau akan semakin menjerit jika melihat air mataku keluar.
Ingin sekali rasanya kumaki perawat dan dokter yang menyakitimu. Tapi, bodoh sekali rasanya jika itu kulakukan. Aku tahu, penyiksaan ini untuk kebaikanmu, dan rasio ku tidak mau kompromi pada saat ini. Baru sekarang aku dapat memahami tersiksanya hati mereka saat yang dicintai disakiti.
Anakku...aku melihat matamu melihat ke arahku di sela sela banjir nya air mata di kelopak matamu. Aku tahu, engkau menganggapku jahat saat ini. Engkau menganggap ku jahat karena membiarkanmu ditusuk oleh jarum infus itu. Saat kau memandangku seperti itu, ingin rasanya aku menghela orang orang berbaju putih itu dari tanganmu. Ingin rasanya aku menggendong dan membelaimu. Ingin sekali aku membelai pipi halus mu yang sudah mulai agak berkeriput karena panas badan yang terlalu lama. Ingin sekali aku mengatakan aku mencintaimu dan tidak ingin melihatmu terluka.
Anakku...setelah tangisanmu berhenti karena kelelahan menangis, aku tersadar bahwa, semua yang menyakitimu belum tentu untuk membuatmu terluka. Jarum infus yang menyakitkan itu, justru akan membuat lebih baik. Terimakasih anakku, kau memberikanku pelajaran bermakna saat ini, meskipun harus kau bayar dengan air matamu.

Rabu, 10 Desember 2008

Anak Penyanyi

Mamaku seorang penyanyi. Aku bangga sekali setiap mendengar suara mama yang merdu.
Aku heran, kenapa banyak orang yang melambaikan tangan menyuruh pergi, setiap mama menyanyi saat mereka makan di pinggir jalan?
Aku heran, apakah mereka tidak suka dengan suara mama yang merdu? Padahal setiap malam meskipun letih aku selalu di nina bobok an dengan suara merdunya.
Apakah orang orang yang makan di pinggir jalan itu menolak karena alat musik yang dipakai mama ku hanya gitar yang dibuat sendiri?
Aku pernah lihat waktu mama merakit gitar buatannya. Mama membuatnya persis seperti gitar mang Asep di gubuk sebelah. Aku tidak tahu bedanya suara gitar buatan mama dengan suara gitar mang Asep, karena bagiku suara mama sudah sangat merdu tanpa gitar.
Aku sering melihat wajah mama tampak kecewa bila melihat orang orang yang makan ayam bakar di pinggir jalan itu melambaikan tangan.
Meskipun kecewa, mama tetap tersenyum ke arahku dan menggandeng tanganku untuk menyanyi di tenda pecel lele sebelahnya.
Kalaupun mereka tidak melambaikan tangan tanda menolak, mereka sering memberikan uang receh ke mama tanpa menoleh dan tersenyum.
Aku melihat mama menerima uang receh itu sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Biasanya orang orang tadi yang memberi uang receh tidak menjawab ucapan terimakasih mama tapi tetap makan pecel lele nya dengan lahap.
Aku sering merasa lapar melihat mereka makan. Mama yang melihat aku menelan ludah sering menghibur "nanti ya...kita makan ayam bakar kalau mama udah nyanyi di restauran besar."
Aku selalu terhibur dengan janji mama. Aku jadi bertambah semangat menemani mama menyanyi karena suatu saat aku akan makan ayam bakar seperti mereka.

Senin, 08 Desember 2008

Aku Ingin Hidup

Mama...teman temanku selalu bertanya, kenapa jari jari tangan dan kaki ku hanya 15 sedangkan mereka mempunyai 20?
Mama...teman temanku selalu bertanya, kenapa papa tidak pernah mengantarku sekolah?
Mama...teman temanku selalu bertanya, kenapa aku tidak pernah merayakan pesta ulang tahun?
Mama...teman temanku selalu bertanya, kenapa mama selalu berdandan seronok saat menjemputku sekolah?
Mama...teman temanku selalu bertanya, kenapa mama selalu menghindari pertanyaan apa pekerjaan mama saat mama mama mereka bertanya?

Mama...apakah benar aku tidak kau inginkan untuk ada di dunia ini?
Mama..apakah benar kau pernah mencoba menghancurkanku?

Mama...tidak ada yang pernah bercerita kepadaku, tapi, aku mendengarnya sendiri saat aku masih di dalam kandunganmu.
Mama...di malam itu saat jari jari tangan dan kakiku sedang dalam proses pembentukan, aku mendengar kau bertengkar dengan seorang laki laki.
Mama..aku merasa sakit pada waktu itu saat kau memasukkan pil itu ke lambungmu dan pil itu memakan jari jariku sehingga tidak dapat terbentuk sempurna.
Mama...aku menjerit pada waktu itu, saat kau berloncat loncat dan meremas remas kandunganmu, tempatku tidur.
Mama..aku ingin menghentikanmu tapi kau tak bisa dan tak mau mendengarku.
Tapi mama...aku tetap berterimakasih sekali padamu karena pada akhirnya aku kau ijinkan tinggal di rahimmu selama 9 bulan lebih. Aku berterimakasih sekali karena kau mau mendengar rintihanku saat itu : ".......aku ingin hidup mama...aku ingin hidup mama.....jangan hancurkan aku."