Rabu, 10 Desember 2008

Anak Penyanyi

Mamaku seorang penyanyi. Aku bangga sekali setiap mendengar suara mama yang merdu.
Aku heran, kenapa banyak orang yang melambaikan tangan menyuruh pergi, setiap mama menyanyi saat mereka makan di pinggir jalan?
Aku heran, apakah mereka tidak suka dengan suara mama yang merdu? Padahal setiap malam meskipun letih aku selalu di nina bobok an dengan suara merdunya.
Apakah orang orang yang makan di pinggir jalan itu menolak karena alat musik yang dipakai mama ku hanya gitar yang dibuat sendiri?
Aku pernah lihat waktu mama merakit gitar buatannya. Mama membuatnya persis seperti gitar mang Asep di gubuk sebelah. Aku tidak tahu bedanya suara gitar buatan mama dengan suara gitar mang Asep, karena bagiku suara mama sudah sangat merdu tanpa gitar.
Aku sering melihat wajah mama tampak kecewa bila melihat orang orang yang makan ayam bakar di pinggir jalan itu melambaikan tangan.
Meskipun kecewa, mama tetap tersenyum ke arahku dan menggandeng tanganku untuk menyanyi di tenda pecel lele sebelahnya.
Kalaupun mereka tidak melambaikan tangan tanda menolak, mereka sering memberikan uang receh ke mama tanpa menoleh dan tersenyum.
Aku melihat mama menerima uang receh itu sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Biasanya orang orang tadi yang memberi uang receh tidak menjawab ucapan terimakasih mama tapi tetap makan pecel lele nya dengan lahap.
Aku sering merasa lapar melihat mereka makan. Mama yang melihat aku menelan ludah sering menghibur "nanti ya...kita makan ayam bakar kalau mama udah nyanyi di restauran besar."
Aku selalu terhibur dengan janji mama. Aku jadi bertambah semangat menemani mama menyanyi karena suatu saat aku akan makan ayam bakar seperti mereka.

Tidak ada komentar: