Tampilkan postingan dengan label Harapanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harapanku. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2009

Bahagia ( Diary Ibu Penjual Sayur 3 )

Hari ini aku bahagia sekali, anak ku yang pertama, seorang pemuda tampan sudah memutuskan untuk berjualan bersamaku. Ia yang kuharapkan menjadi tempatku bergantung kelak akhirnya memutuskan untuk mencari nafkah membantuku.
Tidak sia sia doa ku selama ini, memohon supaya dia bangkit dari rasa rendah diri nya. Aku tahu, memang aku tidak bisa menyekolahkan dia sampai perguruan tinggi, tetapi aku berharap dengan bekal SMA nya dia mau berusaha dari bawah.
Selama ini memang dia selalu menolak bila kuajak berjualan sayur, dia merasa harga dirinya terinjak injak menjadi pedagang sayur keliling. Ia selalu mengatakan ingin pekerjaan yang lebih bergengsi seperti supir taksi atau supir pribadi.
Tetapi, berkali kali sudah ia mencoba selalu gagal bertahan di pekerjaan itu. Aku hanya berpikir positif bahwa, rejekinya bukan di sana. Sehingga, aku tak pernah lelah membujuk nya berjualan bersama ku. Meskipun, ia sering kali marah merasa terhina. Tetapi, aku selalu meyakin kan nya bahwa, aku bisa menyekolahkan dia sampai SMA ya karena gerobak sayur ini.
Hari ini hari paling bahagia dalam hidup ku ketika mendengar dia bangkit dari ke gengsian nya dan berteriak lantang “ SAYUR…” Ternyata, rasa bahagia itu bisa timbul karena apa saja, bukan hanya dari materi yang berlimpah. ( elizatri )

Rabu, 14 Januari 2009

Aku Harus Tegar ( Diary Ibu Penjual Sayur )

Saat yang lainnya masih terlelap aku sudah mempersiapkan gerobak sayurku. Tiga orang anak ku yang sepenuhnya menggantung kan harapan di pundak ku juga masih terlelap. Aku tidak sampai hati membangunkan mereka. Aku memang berjuang untuk kesejahteraan mereka.
Semua berawal saat ayah mereka pergi ke yang Maha Pencipta. Mulai dari saat itu, yang ada di benak ku hanya, aku harus tegar. Tentu saja aku harus tegar untuk kelangsungan rumah tangga ku, kalau bukan aku siapa lagi yang akan menjadi sandaran ke tiga anak ku?
Ibu ibu tetangga kiri kanan sering memujiku wanita tangguh. Wanita tangguh? Aku sendiri tidak pernah menganggap diriku sebegitu tangguhnya. Aku menjadi tangguh di mata mereka karena tuntutan hidup. Tuntutan hidup yang tidak bisa membuatku memilih selain aku harus tegar dan menjadi wanita tangguh.
Aku yakin, semua wanita pun bisa seperti ku jika tidak ada pilihan lain, hanya saja, yang aku sesali wanita lain menggunakan kelemahan mereka untuk bertahan hidup. Tapi, terserah lah dengan mereka, karena aku akan tetap menggunakan kekuatanku untuk tetap bertahan hidup.
Tidak peduli hujan atau panas yang sedang terjadi di atas bumi ini. Aku tidak bisa mengeluh karena tidak akan ada yang mau mendengarku. Aku akan tetap mendorong gerobak sayur ku demi sesuap nasi dan kesejahteraan keluargaku. Dan, hanya tiga kata ini yang selalu mendorong semangatku : aku harus tegar.

Minggu, 04 Januari 2009

Apa Yang Tidak Mungkin? (Diary Ibu Penjual Sayur)

Sayur…sayur….aku terus berteriak menjajakan barang dagangan ku. Aku tahu, panas sudah semakin terik, tapi aku harus terus berkeliling hari ini. Gerobak sayur ku belum kosong benar, masih ada sayur kangkung, buncis, dan kacang panjang yang sudah semakin layu. Aku tetap berharap ada yang mau membelinya.
Hari ini hari pertama ku kembali berkeliling untuk berjualan, seminggu kemarin aku benar benar tidak bisa keluar dari rumah. Aku harus menjaga cucu ku seharian suntuk. Waktu ku habis hanya untuk cucu ku yang baru berumur 1 minggu. Ingin rasanya aku mengeluh, kenapa bukan ibunya sendiri yang harus menjaga. Tapi, setiap aku melihat kondisi ibunya yang masih lemah, aku tidak tega menyuruhnya menjaga anak nya sendiri.
Anak ku melahirkan cucu ku 1 minggu yang lalu, kasihan sekali aku melihat kondisinya, air ketuban pecah tiba tiba, padahal usia kehamilannya baru 8 bulan.
Dengan motor pinjaman, aku dan menantu laki laki ku membawa anakku ke bidan untuk melahirkan. Tapi, bidan menolak, dengan alasan masih 8 bulan dan ada kelainan pada kehamilannya. Memang sih, aku tahu ini bukan hal yang normal, tapi aku memikirkan biaya bila harus kubawa ke rumah sakit.
Hhh…akhirnya dengan terpaksa kubawa anakku ke rumah sakit bersalin. Ternyata, selain akan lahir premature, cucu ku juga dalam posisi sungsang.
Sudahlah, aku semakin pasrah saja, meskipun harus di operasi. Aku tahu, seharusnya ini tanggung jawab suaminya, tapi, aku juga tahu suaminya tidak bisa membayar semua biaya. Dan, kadang itu yang menjadi penyesalanku kenapa dulu aku cepat cepat menyetujui pernikahan mereka padahal mereka berdua masih muda sekali. Belum sanggup mental jika harus menanggung beban seberat sekarang.
Naluri sebagai ibu mendorongku untuk mengesampingkan siapa yang harus bertanggung jawab. Yang penting, anak dan cucu ku selamat.
Masalah tidak berakhir setelah cucu ku lahir, aku baru tahu betapa repotnya mengurus sesuatu yang tidak normal. Cucu ku harus dirawat dengan biaya 250 ribu sehari. Oh Tuhan..aku tidak sanggup, akhirnya, setelah 3 hari ia kubawa pulang. Meskipun aku tahu tidak akan bisa memberikan fasilitas yang harus diberikan untuk bayi premature dengan berat 1,5 kg.
Dengan lampu seadanya, aku me manasi cucuku yang mungil. Semalam suntuk aku menjaganya.
Hingga hari ini, aku harus kembali berkeliling di terik matahari untuk mencari biaya merawat cucu ku. Mungkin terdengar sulit untuk menjadikan cucuku menjadi bayi montok. Tapi, apa sih yang tidak mungkin di dunia ini?Ada seorang Ibu langganan sayur ku mengatakan, ini rejeki ku, jangan ditolak dan jangan mengeluh. Hm..setelah kupikir memang sekarang cucuku ini belum terlihat nyata sebagai apa yang disebut rejeki. Tapi, aku harus terus berpikir positif, hal ini benar benar rejeki buatku. Karena , sekali lagi kukatakan…apa yang tidak mungkin di dunia ini?

Senin, 29 Desember 2008

Salah Siapa ?

Seorang bapak, kebingungan mencari biaya untuk menghidupi ke 6 anaknya. Penghasilannya cuma 600 ribu sebulan. Jangan kan buat kasih makan yang bergizi, buat sekolah anak anak nya saja udah ngutang. Apalagi kalau ditambah anak nya sakit. Terpaksa deh di kasih obat seadanya dengan harapan mudah mudah an sembuh.
Akhirnya, anak anak nya gak jelas sekolahnya, gak jelas kesehatannya, dan gak jelas kehidupannya. Sayang sekali, padahal 6 orang anak, bisa jadi 6 kepala yang otak dan pemikirannya bisa buat membantu mensejahterakan keluarganya sendiri dan mensejahterakan orang lain ( kalaupun ada yang berhasil mencetak anak anak pandai dengan perbandingan penghasilan dan pengeluaran seperti itu, tentu mereka termasuk orang tua yang pandai juga mengatur pengeluaran ).
Bapak itu pernah meminta bantuan pemerintah buat memberikan keringanan pendidikan dan kesehatan keluarganya. Pemerintah sudah memberikan tanggapan positif dengan program program nya untuk kesejahteraan pendidikan dan kesehatan orang tidak mampu (meskipun belum sempurna benar). Termasuk juga memberikan pendidikan kesehatan tentang Keluarga Berencana ( KB ).
Dan, salah siapa jika jaman sekarang ada yang tidak ber KB ? salah siapa jika harus menanggung beban sampai 6 kepala yang harus dihidupi? Tentu sudah bukan salah pemerintah lagi. Kalaupun tidak setuju dengan alat alat KB seperti pil, iud, suntik, masih ada pilihan sistem kalender. Kalaupun pakai sistem kalendar kebobolan, ya jangan sering sering. Ini semua tentu tidak berlaku buat mereka yang memang senang punya anak banyak dan penganut slogan banyak anak banyak rejeki, tapi yang jelas mereka tetap harus bertanggung jawab anak anak mereka akan menjadi orang orang yang berkualitas kelak.

Kamis, 25 Desember 2008

Harap Kembali

...Hanya memberi tak harap kembali.... aku semakin gelisah setiap mendengarnya. Anakku, di lubuk hati kecil ku yang terdalam, aku tetap mengharap kembali. Aku tetap mengharap kau mau : menggandengku ku saat nanti aku tak lagi lancar berjalan karena terlalu tua...(seperti dulu waktu aku menggandengmu mu waktu baru belajar jalan.)
Aku tetap harap kau mau menyuapiku jika nanti aku terlalu gemetar tidak bisa memegang sendok karena terlalu tua (seperti dulu aku menyuapimu waktu bayi).
Aku tetap harap kau mau membasuh kulit tua ku jika nanti aku sama sekali tidak bisa berdiri untuk mandi karena terlalu tua ( seperti dulu aku memandikanmu waktu bayi).
Aku tetap harap kau terus menjaga dan mendoakan untuk kesehatanku (seperti dulu aku selalu mendoakan dan menjaga kesehatanmu)
Dan..aku tetap harap kau akan terus mengingatku dan selalu ingin menyenangkanku di waktu kau senang (seperti dulu aku selalu mengingat dan selalu ingin menyenangkanmu di waktu aku senang).