Tampilkan postingan dengan label anak dan harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak dan harapan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2009

Marah dulu.....

Anak itu lucu sekali, bicara nya yang masih cadel membuat orang yang mendengar semakin gemas ingin mencubit.
Kulit putih, mata bulat, tangan kaki gempal dan pipi kemerahan membuat anak itu disenangi orang yang pertama kali melihatnya.
Orang yang menatap mata bulat nya untuk pertama kali pasti langsung jatuh cinta. Mungkin seorang penjahat bertangan dingin pun akan tersentuh hatinya melihat anak yang sangat menawan itu.
Tapi sayangnya, kadang anak itu membuat “ ill feel “ orang disekitarnya. Saat ia sedang marah karena keinginan nya tidak dituruti, ia akan membanting dan melempar apa saja yang ada di dekatnya. Tapi lucunya, sesaat setelah ia marah, ia akan menyesal. Dengan menempel – nempelkan badan nya yang gempal ke orang yang dimarahi nya tadi, sudah merupakan pertanda ia menyesal sudah marah – marah.Hm…mudah – mudah an saja sifat “marah dulu menyesal kemudian” dari anak itu tidak terbawa sampai dewasa. (elizatri)

Senin, 29 Desember 2008

Salah Siapa ?

Seorang bapak, kebingungan mencari biaya untuk menghidupi ke 6 anaknya. Penghasilannya cuma 600 ribu sebulan. Jangan kan buat kasih makan yang bergizi, buat sekolah anak anak nya saja udah ngutang. Apalagi kalau ditambah anak nya sakit. Terpaksa deh di kasih obat seadanya dengan harapan mudah mudah an sembuh.
Akhirnya, anak anak nya gak jelas sekolahnya, gak jelas kesehatannya, dan gak jelas kehidupannya. Sayang sekali, padahal 6 orang anak, bisa jadi 6 kepala yang otak dan pemikirannya bisa buat membantu mensejahterakan keluarganya sendiri dan mensejahterakan orang lain ( kalaupun ada yang berhasil mencetak anak anak pandai dengan perbandingan penghasilan dan pengeluaran seperti itu, tentu mereka termasuk orang tua yang pandai juga mengatur pengeluaran ).
Bapak itu pernah meminta bantuan pemerintah buat memberikan keringanan pendidikan dan kesehatan keluarganya. Pemerintah sudah memberikan tanggapan positif dengan program program nya untuk kesejahteraan pendidikan dan kesehatan orang tidak mampu (meskipun belum sempurna benar). Termasuk juga memberikan pendidikan kesehatan tentang Keluarga Berencana ( KB ).
Dan, salah siapa jika jaman sekarang ada yang tidak ber KB ? salah siapa jika harus menanggung beban sampai 6 kepala yang harus dihidupi? Tentu sudah bukan salah pemerintah lagi. Kalaupun tidak setuju dengan alat alat KB seperti pil, iud, suntik, masih ada pilihan sistem kalender. Kalaupun pakai sistem kalendar kebobolan, ya jangan sering sering. Ini semua tentu tidak berlaku buat mereka yang memang senang punya anak banyak dan penganut slogan banyak anak banyak rejeki, tapi yang jelas mereka tetap harus bertanggung jawab anak anak mereka akan menjadi orang orang yang berkualitas kelak.

Minggu, 21 Desember 2008

Sumber Daya Berkualitas

Pelayanan kesehatan bayi dan anak mendapatkan perhatian khusus dari setiap negara. Karena,
seorang anak bisa dianggap sebagai sumber daya yang berkualitas untuk suatu negara. Di mana, anak tersebut akan menjadi tulang punggung kemajuan suatu negara.Tapi, selain sehat, apakah semua anak bisa dianggap sebagai sumber daya berkualitas? Tergantung.
Tergantung dari seberapa besar peran orang tua, untuk menjadikan anak mereka berkualitas. Tergantung dari seberapa banyak orang tua sudah memberikan contoh contoh perilaku yang berkualitas.
Tergantung dari seberapa banyak orang tua sudah mengajarkan ajaran ajaran bermutu, untuk anak anak mereka sehingga tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas.
Tergantung dari seberapa besar orang tua sudah merawat dan menjaga anak anak mereka, sehingga mereka dapat menjadi berkualitas dengan rasa aman.Jadi, pada akhirnya seorang anak dapat menjadi sumber daya berkualitas tidak lepas dari peran orang tua dengan :
1. lebih memilih mengajak tanya jawab tentang pengetahuan yang merangsang pola pikir seorang anak daripada tanya jawab tentang gosip.
2. lebih memilih tidak bergunjing di depan anak tentang orang lain.
3. lebih memilih untuk tidak berkelakuan buruk di depan anak supaya anak tidak meniru.
4. lebih memilih untuk memberikan menu bergizi setiap saat supaya anak dapat berkembang dengan baik.
5. lebih memilih untuk meluangkan waktu bersama anak daripada menghabiskan waktu dengan tidak berguna.
6.........silahkan anda tambah sendiri, karena anda lebih tahu......

Jumat, 05 Desember 2008

Seorang Anak di Pekuburan

Anak kecil itu tampak menikmati apa yang sedang dipegangnya. Tanah basah di pekuburan itu bagaikan adonan roti di tangannya. Tidak tampak perasaan jijik saat seekor cacing tanah keluar dari "tanah" adonan rotinya.
Anak itu memang tidak berbeda dari anak sebaya nya, hanya saat itu ia berada di mana yang membedakan dengan anak sebanyanya. Saat anak sebaya nya sedang asyik bermain ayunan di sekolah play group, ia asyik bermain lompat lompat an di setiap nisan.
Kakinya yang kecil selalu berlari mengikuti ke mana ibunya pergi. Dengan sigap ia selalu ingin membantu ibunya. Setiap ibunya mendapat order an dari para pelayat yang minta dibersihkan makam keluarganya, anak itu juga ikut mencabut rumput liar di sekitar makam seperti yang ibunya lakukan.
Mencabut rumput liar sekitar makam, menyapu daun daun kering, mengumpulkan bunga kamboja yang berjatuhan dan menyiram tanah makam adalah pekerjaan sehari hari ibunya.
Anak kecil itu tidak pernah mengerti kenapa setiap orang yang datang menangis dan berdoa. Kalaupun ia mengerti, ia tidak akan ambil pusing. Karena yang ia hanya tahu dan ia pedulikan adalah bahwa pekuburan itu adalah tempat bermainnya dan..... pekuburan itu adalah sekolahnya.....

Minggu, 30 November 2008

Kehendak seorang Anak

Bukanlah kehendak seorang anak untuk dilahirkan ke dunia ini. Bukanlah salah seorang anak sampai ia harus lahir ke dunia ini. Dan bukanlah salah mereka juga bila orang tua harus menguras energi untuk merawat dan membanting tulang untuk mencukupi kebutuhannya.
Dari kecil hingga akhirnya mereka bisa mandiri adalah kewajiban setiap orang tua untuk merawat, mendidik, menyekolahkan dan mencukupi segala kebutuhan dasarnya.
Dan pada akhirnya, saat mereka bisa mandiri dan dapat mencukupi segala kebutuhannya sendiri, orang tua tetap berkewajiban menasihati bila anak tersebut melenceng dari norma norma yang seharusnya dan mendoakan untuk kesejahteraan kelangsungan hidup mereka sampai mereka sendiri menjadi orang tua yang akan mempunyai kewajiban yang sama terhadap anak mereka masing masing.

Kamis, 27 November 2008

Anak dan Harapan


Setiap anak mempunyai harapan akan menjadi apa ia kelak, meskipun tidak bisa diungkapkan dengan kata kata karena masih terlau kecil. Untuk mewujudkan harapan di masa depannya,ia gantungkan proses perwujudan tersebut kepada orang tua yang melahirkannya. Seperti anak ini,Ia gak pernah menyangka kalau kelak menjadi seorang sarjana tehnik yang bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya seandainya orangtuanya tidak membesarkannya dengan kasih sayang, perlakuan mendidik, mencukupi kesejahteraannya semasa proses belajar dan ajaran sopan santun, mungkin ia tidak akan pernah menjadi seorang sarjana tehnik yang berhasil.

Selasa, 25 November 2008

Seorang Anak Pemimpin

Seorang anak yang kelak menjadi pemimpin berkualitas tidak harus berasal dari keluarga seorang pemimpin juga. Anak yang berasal dari keluarga yang biasa saja tetapi di dalam keseharian keluarga tersebut selalu memberikan dan mencontohkan kepemimpinan berkualitas akan melahirkan seorang anak yang berkualitas juga.
Kualitas tidak hanya di ukur dari materi tetapi bisa dari tutur kata yang sopan, hati nurani, kasih sayang kepada sesama, penghormatan kepada yang lebih tua, menghargai yang lebih muda dan sebagainya.

"Tugas terdekat kita adalah membangun sebuah keluarga yang baik, sejahtera, dan berbahagia, karena keluarga adalah tempat terbaik pengembangan semua kualitas kepemimpinan - Mario Teguh dalam mobile phone 7266"